Artikel 11 (Politik dalam islam)

Posted: Juni 18, 2010 in Uncategorized

Politik dalam Islam
Oleh Redaksi

Diperlukan ekstra kehatian-hatian untuk membangun pandangan yang bersahabat antara Islam dan kehidupan politik. Hal itu, menurut Samuel P. Huntington, akan dapat tumbuh dan berkembang jika mendapat dukungan sikap, nilai, kepercayaan, dan pola-pola tingkah laku berkaitan dengan perkembangan peradaban yang kondusif. Hal itu juga disebabkan oleh kenyataan yang tak terbantahkan -meminjam istilah Sdr Ulil- bahwa umat Islam tidak bisa menghindar dari kenyataan baru yang sama sekali berbeda.

SEDIKIT pandangan tentang politik dalam Islam telah dikemukakan Sdr Ulil Abshar-Abdalla dalam Kajian di Jawa Pos, 1 Juni 2003, yang berjudul Fahmi Huwaidi dan Dzimmah. Di sana ada beberapa hal yang perlu dipahami bersama bahwa sampai saat ini ada tiga pendapat yang berkembang dalam lingkungan kaum muslim tentang politik.

Pertama, aliran yang berpendapat bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan serba lengkap yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk bernegara. Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa Alquran tidak mengatur masalah politik atau ketatanegaraan. Ketiga, pendapat yang mengambil jalan tengah bahwa dalam Alquran tidak terdapat sistem ketatanegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi kehidupan bernegara.

Mengamati berbagai persoalan yang berkembang akhir-akhir ini, khususnya dalam bidang politik Islam, dan jika kita mau merenung lebih mendalam, jelas tergambar bahwa sebuah pemahaman yang benar, evaluatif, kritis, dan rasional akan menunjukkan Islam bukanlah agama politik semata. Bahkan, porsi politik dalam ajaran Islam sangatlah kecil. Itu pun berkaitan langsung dengan kepentingan banyak orang yang berarti kepentingan rakyat kecil (kelas bawah di masyarakat), bukan pada tataran model-model politik.

Karena itu, jelas pulalah bahwa politik dan agama adalah sesuatu yang terpisah. Dan, sesungguhnya pembentukan pemerintahan dan kenegaraan adalah atas dasar manfaat-manfaat amaliah, bukan atas dasar sesuatu yang lain. Jadi, pembentukan negara modern didasarkan pada kepentingan-kepentingan praktis, bukan atas dasar agama.

Pemerintahan yang berlaku pada masa Rasulullah dan khalifah bukanlah diturunkan Allah dari langit. Wahyu Allah hanya mengarahkan Rasul dan kaum muslimin untuk menjamin kemaslahatan umum, tanpa merenggut kebebasan mereka untuk memikirkan usaha-usaha menegakkan kebenaran, kebajikan, dan keadilan.

Alquran sendiri tidak mengatur urusan politik secara khusus, tetapi hanya memerintahkan untuk menegakkan keadilan, kebajikan, membantu kaum lemah, dan melarang perbuatan yang tidak senonoh, tercela, serta durhaka. Alquran hanya meletakkan garis besar pada kaum muslimin, kemudian memberikan kebebasan untuk memikirkan hal-hal yang diinginkan dengan ketentuan tidak sampai melanggar batas-batas yang telah ditetapkan.

Rasulullah sendiri belum pernah menentukan sistem politik dan kekuasaan tertentu melalui sunah dan kebijaksanaannya. Hal ini yang semestinya harus kita sadari bersama agar politik tidak menjadi “panglima” gerakan Islam yang mempunyai keterkaitan dengan sebuah institusi yang bernama kekuasaan. Selain itu, Islam lebih mengutamakan fungsi pertolongan pada kaum miskin dan menderita serta tidak lebih memperhatikan secara khusus tentang bentuk negara.

Hal-hal seperti itulah yang seharusnya menjadi tekanan bagi gerakan-gerakan Islam dalam membangun sebuah bangsa, bukan mementingkan formalisasi ajaran-ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab, persoalan formalisasi ideologi Islam dalam kehidupan bernegara tidak menjadi kebutuhan utama dalam bernegara.

Justru penampilan nonformal agama dalam kehidupan bernegara harus terwujud tanpa formalisasi dirinya. Dengan demikian, agama Islam menjadi sumber inspirasi bagi gerakan-gerakan Islam dalam kehidupan bernegara. Inti pandangan seperti itu terletak pada kesadaran bahwa agama harus lebih berfungsi nyata dalam kehidupan daripada membuat dirinya menjadi wahana bagi formalisasi agama yang bersangkutan dalam kehidupan bernegara.

Merujuk uraian di atas, diperlukan ekstra kehatian-hatian untuk membangun pandangan yang bersahabat antara Islam dan kehidupan politik. Hal itu, menurut Samuel P. Huntington, akan dapat tumbuh dan berkembang jika mendapat dukungan sikap, nilai, kepercayaan, dan pola-pola tingkah laku berkaitan dengan perkembangan peradaban yang kondusif. Hal itu juga disebabkan oleh kenyataan yang tak terbantahkan -meminjam istilah Sdr Ulil- bahwa umat Islam tidak bisa menghindar dari kenyataan baru yang sama sekali berbeda.

Ini menunjukkan bahwa dalam memandang sesuatu persoalan, Islam lebih mementingkan pendekatan profesional, bukan politis. Kalau saja dimengerti dengan baik, hal itu akan menjadi jelas mengapa Islam lebih mementingkan masyarakat adil dan makmur atau dengan kata lain masyarakat sejahtera, yang lebih diutamakan kitab suci tersebut, daripada masalah bentuk negara.

Jika hal ini disadari sepenuhnya oleh kaum muslimin, tentu salah satu sumber keruwetan dalam hubungan antarsesama umat, khususnya umat Islam, dapat dihindari. Artinya, ketidakmampuan dalam memahami hal itulah yang menjadi sebab kemelut luar biasa dalam lingkungan gerakan Islam dewasa ini.

[Sujito Batokan Banjarejo, Ngariboyo, Magetan, Jatim]
06/07/2003 | Gagasan | #
Komentar
Komentar Masuk (14)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

politik adalah alat untuk mencapai kekuasaan yang ada. politik erat kaitannya dengan suatu tindakan untuk mempengaruhi seseorang. namun, banyak yang menggunakan cara-cara kotor untuk mendapatkan kekuasaan yang ada. hal itu bertentangan sekali dengan aturan islam yang ada. mendapatkan kekuasaan boleh. tetapi hrndaknya menggunakan cara yang baik. jangan yang kotor. kembalikan kepada hakikat kita mendapatkan suatu kekuasaan, yaitu untuk melayani rakyat dengan ikhlas dan tulus. politik yang baik hendaknya jangan dipisahkan dari aturan agam yang ada. yakinkan ini dalam hati kita semua.
Posted by chairul fatwa saputra on 04/23 at 11:18 PM

bismillah
salam

sepakat bahwa islam tdk megatur bentuk2x politiknegara.tetpi memberikan 1 paket aturan yang dpt digunakan dalam mencapai kemakmuran .keadilan dan manusia yang adil dan beradab,’bukan agama dalam bentuk politik yang lebih banyak ngawurx dan bahkan tidak jelas selain kepentingan kelompok…wassalam..
Posted by mady on 03/07 at 05:32 PM

Kembalikan kejayaan Islam !!!
Posted by Akhmad Rivandi on 10/03 at 08:17 AM

Mungkin, karena Islam merupakan ajaran yang sakral dari Tuhan, Allah SWT, maka ketika dia dipertemukan dengan wacana dan kenyataan hidup per-’politik’-an, sering dianggap berbenturan. Perbenturan ini, sering dianggap untuk menjaga kesucian Islam itu sendiri. Sementara, di sisi lain ‘politik’ dianggap berwacana duniawi yang penuh intrik ‘kekotoran’, sehingga kalau dipertemukan dengan Islam, akan dapat menghilangkan kesakralan Islam itu sendiri.

Islam diturunkan Tuhan, Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW, ‘memang’ untuk diterapkan di dalam kehidupan duniawi. Tuntunan Islam yang sangat utama, adalah menuntun umat manusia (baik dia Muslim maupun non Muslim) dalam mengajarkan, mengarahkan kebenaran tentang eksistensi Tuhan itu sendiri, selain tuntunan nyata kehidupan dibidang sosial, politik budaya dan sebagainya.

Artinya, Islam juga menuntun umat manusia khususnya Muslim dalam mengarungi kehidupan dunia, termasuk kehidupan ‘politik’. Umat Islam, silahkan berpolitik, tetapi tetap saja ‘rambu-rambu’ dan prinsip ajaran Islam tidak boleh dilanggar. Seperti, seseorang Muslim guna mencapai kedudukan jabatan, presiden, menteri, gubernur dan lainnya, harus dilakukannya dengan niat dan motivasi prinsip yang jelas seperti ‘ketulusan’ dan keikhlasan, semata karena Allah SWT dengan tujuan memakmurkan umat manusia dan syiar Islam itu sendiri. Karena itu, dalam pencapaian tujuan ini, si tokoh Nuslim, misalnya dilarang menggunakan trik-trik kotor seperti menyuap para pemilih agar mereka memilih dirinya dalam pemilihan jabatan agar jabatan tersebut dimenangkannya. Kalau hal ini dilakukan, maka apakah Islam mengajarkan kekotoran dalam berpolitik?.

Kalau seseorang ini menggunakan cara terlarang, maka yang salah bukan Islamnya, tetapi orang yang mengaku Muslim inilah yang salah karena dia telah menodai Islam dan umat Islam yang lain. Oleh karena itu, seseorang atau kelompok boleh berijtihad, apakah dia mau menggunakan ‘merek’ Islam atau tidak?. Ya Tuhan pun tidak melarang dan tidak menganjurkan, tetapi harus pandai menjaga ‘kemurnian’ Islam itu sendiri. Islam jangan dilecehkan dan dikerdilkan dalam kehidupan politik, sehingga seolah-olah kedudukan politik itu lebih tinggi dari ajaran Islam.
Posted by Elfizon Anwar on 09/15 at 08:29 PM

assalammualaikum… saya sering tertanya-tanya kenapa agaknya rakyat islam sekarang mundur sedangkan cendekiawan kita seperti ibnu khaldun mencetus tamadun. sekarang baru saya sedar kenapa hal itu terjadi ini kerana kelalaian kita sebagai umat islam sendiri. kerana kita sebagai umat islam sendiri tidak menjadikan al-quran sebagai panduan. kenapa saya berkata begini? lihat kaum yahudi kenapa mereka berjaya mereka berjaya kerana mereka menggunakan kitab dalam setiap apa yang mereka buat. ajaran mereka mengatakan bahawa sekiranya mereka berperang jangan mengasihani sesipa hatta wanita dan budak kecil pun.

oleh itu kenapa kita tidak menjadi seperti mereka membuat sesuatu dengan berdasarkan kitab kita iaitu al-quran hatta dalam poliik sekalipun kalau cendekiawan dulu menjadi terkenal hanya berpandukan al-quran. di dalam al-quran terdapat banyak ilmu yang belum diteroka bekerjasamalah untuk meneroka ilmu itu ahi sains dan para ulama harus bersama-sama untuk menyelami maksud yang terkandung dalam al-quran maka kita boleh menjadi semakin maju. kenapa sekarang kita harus merujuk tulisan barat sedangkan pencetus idea terlebih dahulu adalah orang islam…. tepuk dada, bukan tanya sesiapa tapi tanya minda. kita bukan mempolitikkan islam teapi menggunakan syariatnya dalam berpolitik… sekian wasalam semoga sesiapa yang membaca cetusan pendapat ini mengetahui apa yang ingin di sampaikan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s